proposal ptk
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan pribadi mencakup pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitif, afektif, dan psikomotor). Pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada siswa dalam kondisi, tempat, alat, dan metode tertentu. Pendidikan ini dapat di peroleh dalam suatu proses yang disebut dengan pembelajaran.
Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan menerapkan berbagai model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa dalam belajar. Apalagi tuntutan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tahun 2006 sangat mengharapkan siswa untuk belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan ( learning to do ), belajar menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together ).
Untuk mencapai tujuan diatas, maka perlu diadakan suatu Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama mata pelajaran IPA Biologi. Seperti diketahui IPA adalah mata pelajaran yang dianggap masih sulit oleh siswa, karena berdasarkan dari hasil belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran masih sangat rendah.
Siswa sulit termotivasi dalam pembelajaran IPA Biologi, karena beberapa hal, antara lain adalah ilmu yang dipelajari berhubungan dengan sistem yang terjadi pada tubuh makhluk hidup, jadi bersifat menghayal dan membayangkan kejadiannya, juga akan sulit apabila pembelajaran yang diberikan hanya satu arah atau model konvensional yang berpusat pada guru. Untuk itu model pembelajaran harus dirubah ke arah mengajak siswa untuk aktif per-individu dan perkelompok yang saling bekerja sama dalam pembelajaran.
B. Perumusan Masalah
Setelah memaparkan latar belakang masalah tadi, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah " Apakah dengan penggunaan Model pembelajaran Think-Pair-Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Biologi kelas IX 3 di SMP Negeri 12 Padang ".
C. Pembatasan Masalah
Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dan menyadari keterbatasan waktu dalam penelitian, maka perlu dilakukan pembatasan masalah, sebagai berikut :
1. Penelitian dilaksanakan pada SK 1 (Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia), KD 1.1. (Mendeskripsikan sistem eksresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan) dan KD 1.2. (Mendeskripsikan sistem reproduksi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan) Standar Kompetensi Dasar tahun 2006 , IPA SMP untuk kelas IX .
2. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus.
D. Cara Pemecahan masalah
Melihat permasalahan yang telah dipaparkan diatas, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memilih model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif atau cooperatif learning, mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil terdiri dari 4 – 5 orang yang saling membantu dalam belajar.
Penulis memilih salah satu metode pembelajaran kooperatif yaitu Model Think-Pair-Share, dimana model ini belum pernah diterapkan dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman (1985) dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian penerapan model Think-Pair-Share bertujuan untuk meningkatkan :
1. hasil belajar siswa.
2. keaktifan belajar siswa.
F. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk :
1. Pegangan dan pengetahuan bagi peneliti untuk menerapkan model pembelajaran yang variatif dalam pembelajaran berikutnya.
2. Meningkatkan kebermaknaan pengajaran IPA Biologi dimasa yang akan datang.
3. Guru lain, sebagai motivator untuk mengembangkan model – model pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan karakteristik materi dan peserta didik.
4. Peneliti lain, sebagai bahan masukan untuk penelitian lanjutan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Hasil Belajar Siswa
Pembelajaran dan hasil belajar tak bisa dipisahkan, hasil belajar dapat diperoleh melalui proses belajar. Dimyati ( 1999 ) menjelaskan bahwa belajar merupakan kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Slameto ( 1991 ) menjelaskan secara umum belajar merupakan :
a. Perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari proses interaksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
b. Usaha individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru dari pengalaman.
Perubahan tingkah laku menurut Snellbeeker ( 1974 ) meliputi perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sehingga akibat dari belajar adalah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor makin bertambah. Slameto ( 1991 ) menjelaskan, kualitas proses belajar tergantung pada tiga unsur yaitu :
1. Tingkat partisipasi dan jenis kegiatan belajar yang dihayati oleh siswa.
2. Peran guru dalam proses belajar mengajar.
3. Suasana proses belajar.
Ketiga unsur tersebut sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, karena semakin intensif partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar makin tinggi kualitas hasil belajar. Sejalan dengan itu hasil belajar yang akan dicapai melalui proses belajar merupakan tujuan dari pembelajaran yang mencakup tiga ranah yaitu : ( 1 ) Kognitif, ( 2 ) Afektif dan ( 3 ) Psikomotor. Sehingga melalui proses belajar kemampuan ketiga ranah tersebut makin meningkat.
Djamarah ( 1994 ) menjelaskan bahwa bukti nyata dari meningkatnya hasil belajar siswa berasal dari suatu penilaian dibidang pendidikan yang dilakukan oleh guru setelah siswa melakukan kegiatan belajar. Maka dari hasil belajar tersebut diperoleh informasi yang berkenan dengan perkembangan atau penguasaan siswa terhadap bahan pembelajaran yang disajikan sesuai dengan kurikulum yang ada. Hasil penilaian belajar yang menunjukkan kemampuan siswa tersebut ditentukan dalam bentuk angka atau nilai.
2. Model Pembelajaran Kooperatif
Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya ( 1 ) struktur tugas, ( 2 ) struktur tujuan, dan ( 3 ) struktur penghargaan. Struktur tugas mengacu kepada dua hal yaitu cara pembelajaran diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik didalam kelas. Struktur tujuan merupakan kadar saling ketergantungan peserta didik pada saat mereka mengerjakan tugas. Ada tiga macam struktur tujuan : ( 1 ) individualistik, yaitu jika pencapaian tujuan itu tidak memerlukan interaksi dengan orang lain, ( 2 ) kompetitif, yaitu peserta didik hanya dapat mencapai suatu tujuan jika peserta didik lain tidak dapat mencapai tujuan tersebut ( misal: seperti pertandingan sepak bola, satu kelompok dikatakan sukses bila kelompok lain gagal ) dan ( 3 ) Kooperatif, peserta didik dapat mencapai tujuan hanya jika bekerjasama dengan peserta didik lain. Struktur penghargaan ( reward ) merupakan penghargaan yang diperoleh peserta didik atas prestasinya. Struktur penghargaan ini bervariasi tergantung jenis upaya yang dilakukan, seperti halnya struktur tujuan, yaitu penghargaan individualistik, kompetitif dan kooperatif.
Pembelajaran kooperatif bercirikan struktur tugas, tujuan dan penghargaan koopreatif. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu bekerjasama, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai suatu tujuan. Ciri – ciri pembelajaran kooperatif yang lain adalah : ( 1 ) peserta didik bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan bahan pelajaran, ( 2 ) kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, ( 3 ) bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda, ( 4 ) penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Roger dan David ( 1994 ) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperatif learning. Ada lima ( 5 ) unsur yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
1. Saling ketergantungan
2. Tanggungjawab perorangan
3. Tatap muka
4. Komunikasi antar anggota
5. Evaluasi proses kelompok
3. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share
Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya, guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Guru tersebut memilih metode Think-Pair-Share daripada metode Tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer). Lyman dan kawan-kawannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Langah 1 – Berpikir (Thinking): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut.
2. Langkah 2 – Bepasangan (Pairing): Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu soal khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
3. Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.
Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa.
Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program IPA Biologi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes.
Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam Think Pair Share ini.
Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampau
B. Kerangka Pemikiran
Model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa salah satunya adalah model pembelajaran metode Think-Pair-Share, dengan hasil belajar yang akan dicapai melalui proses pembelajaran mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Kemampuan kognitif dilihat dari hasil tes, kemampuan afektif dianalisis dari hasil angket yang diberikan pada siswa mencakup aspek minat dan sikap, kemampuan psikomotor dilihat dari kegiatan langsung yang dilakukan saat siswa berdiskusi.
Kerangka konseptual dapat penulis buat seperti diagram berikut :
C. Hipotesis Tindakan
Dari hasil penelitian diharapkan :
" Penerapan Model pembelajaran Think-Pair-Share dalam pembelajaran IPA Biologi dapat meningkatkan hasil belajar siswa "
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah " Penelitian Tindakan Kelas " ( PTK ) atau Action Research, merupakan pengkajian terhadap permasalahan praktis yang bersifat situasional dan kontekstual yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi atau memperbaiki sesuatu. Hasil utama dari penelitian tindakan adalah berupa perubahan, perbaikan dan peningkatan mutu dari perubahan perilaku.
Penelitian tindakan kelas berbeda dengan penelitian eksperimen formal, yang bertujuan menguji hipotesis dan membangun teori bersifat umum atau general.
Penelitian tindakan lebih bertujuan untuk memperbaiki kenerja guru, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak digeneralisasi. Namun hasil penelitian tindakan dapat saja diterapkan oleh orang lain yang punya konteks mirip dengan peneliti. ( Aleks Maryunis, 2003 ), menyatakan dalam penelitian peneliti tidak hanya memperhatikan proses pembelajaran tetapi dapat pula mengambil tindakan untuk mengubah kejadian ( intervansi ) yang dapat dilakukan melalui penelitian eksperimen.
Jadi metode eksperimen yang diterapkan adalah metode eksperimen yang tak ada kelas kontrol.
B. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada SMP N 12 Padang, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IX. Peneliti merupakan guru IPA Biologi mengajar pada tiga kelas yang memiliki kemampuan relatif sama. Penelitian dilaksanakan sejalan dengan kalender pendidikan Semester I Tahun Ajaran 2011 – 2012.
Waktu pelaksananan penelitian lebih kurang dari dua bulan, yaitu minggu kedua bulan Septembar 2012 sampai Nopember minggu kedua 2012 yang akan datang.
Materi pokok yang dijadikan sebagai bahan penelitian adalah Sistem Ekskresi pada manusia dan Sistem Reproduksi pada manusia kajian IPA Biologi kelas IX Semester I, dengan dua siklus ( putaran ) penelitian yang bersifat kronologis. Masing – masing siklus dibagi dalam empat tahapan penelitian yaitu : tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi.
Tahapan – tahapan kegiatan yang ada pada masing – masing siklus adalah sebagai berikut :
a. Tahapan Perencanaan atau Planning
1. Peneliti mempersiapkan RPP berdasarkan KTSP IPA kelas IX semester I.
2. Dalam rangka menindak lanjuti RPP , peneliti mempersiapkan :
a. Materi Pelajaran yang disajikan pada tiap siklus penelitian.
b. Mempersiapkan instrumen penelitian berupa tes untuk dipakai pada tiap siklus penelitian.
c. Membuat instrumen penelitian yang dapat memberikan informasi tentang masalah yang sedang dihadapi siswa dalam belajar.
d. Membuat catatan lapangan secara tertulis bagi peneliti untuk mengamati situasi dan kondisi belajar siswa di kelas.
3. Atas bantuan observer, peneliti melakukan kegiatan antara lain :
a. Merumuskan materi pelajaran berdasarkan buku paket dan KTSP IPA kelas IX SMP.
b. Membuat LKS dalam diskusi siswa.
c. Melakukan uji coba tes yang akan dipakai pada kedua siklus.
b. Tahapan Tindakan Kelas ( Action ).
Pada tahapan ini dilakukan kegiatan pembelajaran sesuai skenario perencaan dengan perangkat pembelajaran berdasarkan model Pembelajaran Think-Pair-Share :
• Fase 1. Pemilihan topik ( berupa penetapan materi pokok )
• Fase 2. Perencaan Kooperatif pada masing – masing kelompok siswa dengan lot pemilihan masing – masing sub topik.
• Fase 3. Implementasi, menerapkan rencana yang telah diterapkan atau dibuat pada fase 2.
• Fase 4. Analisis dan sintesis. Masing – masing kelompok peserta didik menganalisis dan mensintensis informasi yang telah diperoleh pada fase 3.
• Fase 5. Presentasi Hasil Final. Masing – masing kelompok menyajikan hasil bahasannya dalam diskusi kelas yang menarik.
• Fase 6. Evaluasi. Guru dan peserta didik mengevaluasi konstribusi kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruhan yang membahas topik yang sama. Evaluasi dapat berupa penilaian individu/kelompok.
c. Tahapan Pengamatan ( Observation )
Tahapan ini peneliti mengumpulkan, meriviu dan mengamati data perkembangan belajar IPA Biologi siswa dibantu oleh observer (guru biologi lain) . Kegiatan yang dilaksanakan pada tiap siklus adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data pembelajaran melalui tes atau catatan lapangan.
2. Melakukan perhitungan statistik.
3. Menyimpulkan hasil belajar dan kondisi belajar siswa pada siklus.
d. Tahapan Refleksi ( Reflection )
Tahapan ini merupakan akhir dari sebuah siklus penelitian yang akan diisi dengan kegiatan antara lain :
1. Mengumpulkan, menulis semua hal–hal yang berkaitan dengan temuan penelitian.
2. Menentukan ciri masalah yang dominan terjadi dikelas.
3. Melakukan diskusi dengan observer untuk menyusun laporan.
C. Alat Pengumpulan Data
1. Tes yang diberikan pada akhir siklus.
2. Instrumen / angket siswa.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Soal ujian, yang diberikan setiap kali pertemuan
2. Angket dengan skala Lingkert
E. Teknik Analisa Data
Data dihimpun melalui tes, angket dan catatan lapangan yang akan dianalisis secara kuantitatif, kualitatif dan analisa tema.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan pribadi mencakup pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitif, afektif, dan psikomotor). Pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada siswa dalam kondisi, tempat, alat, dan metode tertentu. Pendidikan ini dapat di peroleh dalam suatu proses yang disebut dengan pembelajaran.
Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan menerapkan berbagai model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa dalam belajar. Apalagi tuntutan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tahun 2006 sangat mengharapkan siswa untuk belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan ( learning to do ), belajar menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together ).
Untuk mencapai tujuan diatas, maka perlu diadakan suatu Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama mata pelajaran IPA Biologi. Seperti diketahui IPA adalah mata pelajaran yang dianggap masih sulit oleh siswa, karena berdasarkan dari hasil belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran masih sangat rendah.
Siswa sulit termotivasi dalam pembelajaran IPA Biologi, karena beberapa hal, antara lain adalah ilmu yang dipelajari berhubungan dengan sistem yang terjadi pada tubuh makhluk hidup, jadi bersifat menghayal dan membayangkan kejadiannya, juga akan sulit apabila pembelajaran yang diberikan hanya satu arah atau model konvensional yang berpusat pada guru. Untuk itu model pembelajaran harus dirubah ke arah mengajak siswa untuk aktif per-individu dan perkelompok yang saling bekerja sama dalam pembelajaran.
B. Perumusan Masalah
Setelah memaparkan latar belakang masalah tadi, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah " Apakah dengan penggunaan Model pembelajaran Think-Pair-Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Biologi kelas IX 3 di SMP Negeri 12 Padang ".
C. Pembatasan Masalah
Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dan menyadari keterbatasan waktu dalam penelitian, maka perlu dilakukan pembatasan masalah, sebagai berikut :
1. Penelitian dilaksanakan pada SK 1 (Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia), KD 1.1. (Mendeskripsikan sistem eksresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan) dan KD 1.2. (Mendeskripsikan sistem reproduksi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan) Standar Kompetensi Dasar tahun 2006 , IPA SMP untuk kelas IX .
2. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus.
D. Cara Pemecahan masalah
Melihat permasalahan yang telah dipaparkan diatas, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memilih model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif atau cooperatif learning, mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil terdiri dari 4 – 5 orang yang saling membantu dalam belajar.
Penulis memilih salah satu metode pembelajaran kooperatif yaitu Model Think-Pair-Share, dimana model ini belum pernah diterapkan dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman (1985) dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian penerapan model Think-Pair-Share bertujuan untuk meningkatkan :
1. hasil belajar siswa.
2. keaktifan belajar siswa.
F. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk :
1. Pegangan dan pengetahuan bagi peneliti untuk menerapkan model pembelajaran yang variatif dalam pembelajaran berikutnya.
2. Meningkatkan kebermaknaan pengajaran IPA Biologi dimasa yang akan datang.
3. Guru lain, sebagai motivator untuk mengembangkan model – model pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan karakteristik materi dan peserta didik.
4. Peneliti lain, sebagai bahan masukan untuk penelitian lanjutan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Hasil Belajar Siswa
Pembelajaran dan hasil belajar tak bisa dipisahkan, hasil belajar dapat diperoleh melalui proses belajar. Dimyati ( 1999 ) menjelaskan bahwa belajar merupakan kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Slameto ( 1991 ) menjelaskan secara umum belajar merupakan :
a. Perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari proses interaksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
b. Usaha individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru dari pengalaman.
Perubahan tingkah laku menurut Snellbeeker ( 1974 ) meliputi perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sehingga akibat dari belajar adalah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor makin bertambah. Slameto ( 1991 ) menjelaskan, kualitas proses belajar tergantung pada tiga unsur yaitu :
1. Tingkat partisipasi dan jenis kegiatan belajar yang dihayati oleh siswa.
2. Peran guru dalam proses belajar mengajar.
3. Suasana proses belajar.
Ketiga unsur tersebut sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, karena semakin intensif partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar makin tinggi kualitas hasil belajar. Sejalan dengan itu hasil belajar yang akan dicapai melalui proses belajar merupakan tujuan dari pembelajaran yang mencakup tiga ranah yaitu : ( 1 ) Kognitif, ( 2 ) Afektif dan ( 3 ) Psikomotor. Sehingga melalui proses belajar kemampuan ketiga ranah tersebut makin meningkat.
Djamarah ( 1994 ) menjelaskan bahwa bukti nyata dari meningkatnya hasil belajar siswa berasal dari suatu penilaian dibidang pendidikan yang dilakukan oleh guru setelah siswa melakukan kegiatan belajar. Maka dari hasil belajar tersebut diperoleh informasi yang berkenan dengan perkembangan atau penguasaan siswa terhadap bahan pembelajaran yang disajikan sesuai dengan kurikulum yang ada. Hasil penilaian belajar yang menunjukkan kemampuan siswa tersebut ditentukan dalam bentuk angka atau nilai.
2. Model Pembelajaran Kooperatif
Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya ( 1 ) struktur tugas, ( 2 ) struktur tujuan, dan ( 3 ) struktur penghargaan. Struktur tugas mengacu kepada dua hal yaitu cara pembelajaran diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik didalam kelas. Struktur tujuan merupakan kadar saling ketergantungan peserta didik pada saat mereka mengerjakan tugas. Ada tiga macam struktur tujuan : ( 1 ) individualistik, yaitu jika pencapaian tujuan itu tidak memerlukan interaksi dengan orang lain, ( 2 ) kompetitif, yaitu peserta didik hanya dapat mencapai suatu tujuan jika peserta didik lain tidak dapat mencapai tujuan tersebut ( misal: seperti pertandingan sepak bola, satu kelompok dikatakan sukses bila kelompok lain gagal ) dan ( 3 ) Kooperatif, peserta didik dapat mencapai tujuan hanya jika bekerjasama dengan peserta didik lain. Struktur penghargaan ( reward ) merupakan penghargaan yang diperoleh peserta didik atas prestasinya. Struktur penghargaan ini bervariasi tergantung jenis upaya yang dilakukan, seperti halnya struktur tujuan, yaitu penghargaan individualistik, kompetitif dan kooperatif.
Pembelajaran kooperatif bercirikan struktur tugas, tujuan dan penghargaan koopreatif. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu bekerjasama, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai suatu tujuan. Ciri – ciri pembelajaran kooperatif yang lain adalah : ( 1 ) peserta didik bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan bahan pelajaran, ( 2 ) kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, ( 3 ) bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda, ( 4 ) penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Roger dan David ( 1994 ) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperatif learning. Ada lima ( 5 ) unsur yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
1. Saling ketergantungan
2. Tanggungjawab perorangan
3. Tatap muka
4. Komunikasi antar anggota
5. Evaluasi proses kelompok
3. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share
Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya, guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Guru tersebut memilih metode Think-Pair-Share daripada metode Tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer). Lyman dan kawan-kawannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Langah 1 – Berpikir (Thinking): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut.
2. Langkah 2 – Bepasangan (Pairing): Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu soal khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
3. Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.
Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa.
Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program IPA Biologi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes.
Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam Think Pair Share ini.
Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampau
B. Kerangka Pemikiran
Model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa salah satunya adalah model pembelajaran metode Think-Pair-Share, dengan hasil belajar yang akan dicapai melalui proses pembelajaran mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Kemampuan kognitif dilihat dari hasil tes, kemampuan afektif dianalisis dari hasil angket yang diberikan pada siswa mencakup aspek minat dan sikap, kemampuan psikomotor dilihat dari kegiatan langsung yang dilakukan saat siswa berdiskusi.
Kerangka konseptual dapat penulis buat seperti diagram berikut :
C. Hipotesis Tindakan
Dari hasil penelitian diharapkan :
" Penerapan Model pembelajaran Think-Pair-Share dalam pembelajaran IPA Biologi dapat meningkatkan hasil belajar siswa "
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah " Penelitian Tindakan Kelas " ( PTK ) atau Action Research, merupakan pengkajian terhadap permasalahan praktis yang bersifat situasional dan kontekstual yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi atau memperbaiki sesuatu. Hasil utama dari penelitian tindakan adalah berupa perubahan, perbaikan dan peningkatan mutu dari perubahan perilaku.
Penelitian tindakan kelas berbeda dengan penelitian eksperimen formal, yang bertujuan menguji hipotesis dan membangun teori bersifat umum atau general.
Penelitian tindakan lebih bertujuan untuk memperbaiki kenerja guru, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak digeneralisasi. Namun hasil penelitian tindakan dapat saja diterapkan oleh orang lain yang punya konteks mirip dengan peneliti. ( Aleks Maryunis, 2003 ), menyatakan dalam penelitian peneliti tidak hanya memperhatikan proses pembelajaran tetapi dapat pula mengambil tindakan untuk mengubah kejadian ( intervansi ) yang dapat dilakukan melalui penelitian eksperimen.
Jadi metode eksperimen yang diterapkan adalah metode eksperimen yang tak ada kelas kontrol.
B. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada SMP N 12 Padang, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IX. Peneliti merupakan guru IPA Biologi mengajar pada tiga kelas yang memiliki kemampuan relatif sama. Penelitian dilaksanakan sejalan dengan kalender pendidikan Semester I Tahun Ajaran 2011 – 2012.
Waktu pelaksananan penelitian lebih kurang dari dua bulan, yaitu minggu kedua bulan Septembar 2012 sampai Nopember minggu kedua 2012 yang akan datang.
Materi pokok yang dijadikan sebagai bahan penelitian adalah Sistem Ekskresi pada manusia dan Sistem Reproduksi pada manusia kajian IPA Biologi kelas IX Semester I, dengan dua siklus ( putaran ) penelitian yang bersifat kronologis. Masing – masing siklus dibagi dalam empat tahapan penelitian yaitu : tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi.
Tahapan – tahapan kegiatan yang ada pada masing – masing siklus adalah sebagai berikut :
a. Tahapan Perencanaan atau Planning
1. Peneliti mempersiapkan RPP berdasarkan KTSP IPA kelas IX semester I.
2. Dalam rangka menindak lanjuti RPP , peneliti mempersiapkan :
a. Materi Pelajaran yang disajikan pada tiap siklus penelitian.
b. Mempersiapkan instrumen penelitian berupa tes untuk dipakai pada tiap siklus penelitian.
c. Membuat instrumen penelitian yang dapat memberikan informasi tentang masalah yang sedang dihadapi siswa dalam belajar.
d. Membuat catatan lapangan secara tertulis bagi peneliti untuk mengamati situasi dan kondisi belajar siswa di kelas.
3. Atas bantuan observer, peneliti melakukan kegiatan antara lain :
a. Merumuskan materi pelajaran berdasarkan buku paket dan KTSP IPA kelas IX SMP.
b. Membuat LKS dalam diskusi siswa.
c. Melakukan uji coba tes yang akan dipakai pada kedua siklus.
b. Tahapan Tindakan Kelas ( Action ).
Pada tahapan ini dilakukan kegiatan pembelajaran sesuai skenario perencaan dengan perangkat pembelajaran berdasarkan model Pembelajaran Think-Pair-Share :
• Fase 1. Pemilihan topik ( berupa penetapan materi pokok )
• Fase 2. Perencaan Kooperatif pada masing – masing kelompok siswa dengan lot pemilihan masing – masing sub topik.
• Fase 3. Implementasi, menerapkan rencana yang telah diterapkan atau dibuat pada fase 2.
• Fase 4. Analisis dan sintesis. Masing – masing kelompok peserta didik menganalisis dan mensintensis informasi yang telah diperoleh pada fase 3.
• Fase 5. Presentasi Hasil Final. Masing – masing kelompok menyajikan hasil bahasannya dalam diskusi kelas yang menarik.
• Fase 6. Evaluasi. Guru dan peserta didik mengevaluasi konstribusi kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruhan yang membahas topik yang sama. Evaluasi dapat berupa penilaian individu/kelompok.
c. Tahapan Pengamatan ( Observation )
Tahapan ini peneliti mengumpulkan, meriviu dan mengamati data perkembangan belajar IPA Biologi siswa dibantu oleh observer (guru biologi lain) . Kegiatan yang dilaksanakan pada tiap siklus adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data pembelajaran melalui tes atau catatan lapangan.
2. Melakukan perhitungan statistik.
3. Menyimpulkan hasil belajar dan kondisi belajar siswa pada siklus.
d. Tahapan Refleksi ( Reflection )
Tahapan ini merupakan akhir dari sebuah siklus penelitian yang akan diisi dengan kegiatan antara lain :
1. Mengumpulkan, menulis semua hal–hal yang berkaitan dengan temuan penelitian.
2. Menentukan ciri masalah yang dominan terjadi dikelas.
3. Melakukan diskusi dengan observer untuk menyusun laporan.
C. Alat Pengumpulan Data
1. Tes yang diberikan pada akhir siklus.
2. Instrumen / angket siswa.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Soal ujian, yang diberikan setiap kali pertemuan
2. Angket dengan skala Lingkert
E. Teknik Analisa Data
Data dihimpun melalui tes, angket dan catatan lapangan yang akan dianalisis secara kuantitatif, kualitatif dan analisa tema.
Komentar
Posting Komentar